Tidak Perlu Menjadi Orang Lain

Proses kekaguman kita pada orang lain bisa jadi baik, tapi bisa juga tidak baik. Apa sebabnya? Sikap kekaguman berlebihan tak urung juga bisa membuat kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Kalau sosok yang kamu kagumi memang sosok yang benar-benar patut diteladani, maka hal ini tidak menjadi masalah. Masalahnya hal ini akan berbanding jika figur yang kita idolakan hanya membuat kita sekedar ikut-ikutan.
Contohlah beberapa public figure yang sering muncul di media massa. Belum lagi ditambah dengan selebriti dunia maya yang gencar mempromosikan produk ini dan itu untuk dibeli. Mereka yang ngefans sekedar ngefans pasti mudah tergiur untuk membeli barang-barang yang ditawarkan oleh tokoh idolanya tanpa memfilterkan apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak. Ingin mencoba untuk membentengi diri agar tidak ikut-ikutan. Tapi orang-orang di sekitarnya juga melakukan hal yang sama. Sehingga ia tidak percaya diri jika tidak melakukan hal serupa. Seperti merasa manusia yang ketinggalan zaman. Padahal sejatinya tanpa produk-produk tersebut, mereka tetap bisa hidup normal tanpa kendala.
Terlebih lagi jika mayoritas manusia hari ini sudah mudah digiring pada hal-hal populer tanpa esensi. Mereka hanya mengikuti trend tersebut. Contoh kecil, ada orang yang begitu sukses menjalani bisnis pakaian kemudian banyak orang merasa merasa bisnis pakaian sebagai bisnis yang menjanjikan. Akhirnya banyak orang berlomba-lomba untuk berbisnis di bidang yang sama. Bisnis yang mulanya menjanjikan lama kelamaan hanya menjadi jamur di musim hujan. Banyak penjual yang mengambil dari tempat yang sama dan persaingan harga terjadi di mana-mana. Akhirnya nilai jual menjadi rendah sebab terlalu banyak penawaran sementara jumlah permintaan tetap. Belum sempat untuk mencapai sukseksnya berwirausaha, mereka yang hanya sekedar ikut-ikutan berbisnis ini justru bingung untuk mengembalikan modal.
Padahal mungkin potensi mereka sesungguhnya tidak di sana. Hanya karna ingin mendapatkan hal-hal tadi, mereka mencoba sesuatu yang mereka belum tahu dasarnya.
Akhirnya, alih-alih mereka mendapatkan kesuksesan yang sama, mereka justru harus berjuang dari pagi sampai pagi lagi untuk sesuatu yang belum tentu mereka sukai, mereka, merasakan Lelah untuk mengajar prestasi yang sebenarnya tidak ditakdirkan untuknya. Bukannya mendapat apresiasi, cacian dan kritikan pedas justru mengalir dari sana sini itu semua terjadi karena mereka hanya melakukan sesuatu yang didorong dari terbesitnya keinginan kamu agar menjadi seseorang yang sama berkualitasnya dengan sosok yang mereka kagumi. Padahal sebenarnya potensi yang mereka miliki berseberangan dan tidak menemukan titik temu kesamaan.
*Disarikan dari buku "Berdamai Dengan Diri Sendiri"
*) Penulis merupakan santri aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid Sejati



















