Rabu, 19 Juni 2024

Pertemuan Yang Singkat

Oleh: Nindia Putri Widarmono.


    Setiap Narelle tidur, Narelle selalu bermimpi tentang sosok laki-laki berbadan tinggi dan berbadan kecokelatan. Dia selalu datang ke mimpi Narelle dengan wajah yang sedih. Dan Narelle tidak tahu apa penyebab laki-laki tersebut bersedih. Dan setelah Narelle bermimpi tentang laki-laki itu, ia selalu menceritakan mimipi tersebut kepada ibunya. Ibu Narelle mengatakan kalau itu hanyalah setan yang masuk ke mimpi Narelle. Narelle terus memikirkan apa yang ibunya ucapkan, sangat terasa tidak masuk akal.


    Belum puas dengan apa yang ibunya katakan, Narelle pun mencari tahu apa maksud mimpi tersebut di internet. Ada artikel yang mengatakan, bahwa jika sering bermimpi bertemu dengan laki-laki yang tidak diketahui asalnya dan sering muncul di setiap mimpimu, maka dia adalah jodohmu. Setelah membaca artikel tersebut, tiba-tiba saja, ada selembar kertas di hadapan Narelle, Narelle sangat heran mengapa kertas tersebut tiba-tiba ada di hadapan Narelle. Di surat tersebut tertulis: ”untuk kamu yang baca ini, kumohon pergilah ke jalan Kamboja dan kamu akan bertemu orang yang ingin kamu temui’’. Karena Narelle sudah terlalu kepo dengan laki-laki tersebut, tanpa memikirkan apa-apa langsung mengambil tas dan pergi ke jalan Kamboja seperti apa yang dikatakan oleh pengirim surat tersebut.


    Selama perjalanan, isi dari surat tersebut masih terbayang-bayang di kepala Narelle, Narelle langsung teringat artikel yang tadi ia baca di internet. Apakah Narelle akan bertemu dengan jodohnya? Pertanyaan itu yang selalu terlintas di kepala Narelle.


    Sesampainya Narelle di jalan Kamboja, ia sangat terkejut di sana sudah ada banyak sekali makam, dan di pemakaman tersebut terlihat sangat sepi, bisa di bilang hanya ada Narelle di sana. Karena Narelle ingin sekali bertemu dengan lelaki yang ada di mimpinya itu, Narelle membulatkan tekatnya untuk memasuki pemakaman tersebut. Narelle berhenti di sebuah makam, yang ternyata orang di dalam makam tersebut sudah meninggal 20 tahun lalu. Narelle menemukan selembar kertas di samping makam tersebut. “Terimakasih sudah mau datang ke sini, jika kamu masih ingin bertemu denganku maka datanglah ke pohon beringin yang ada di ujung sana”, begitulah isi selembar kertas tersebut.


    Narelle sudah terlalu kepo dengan laki-laki itu, jarak dari makam ke pohon beringin lumayan jauh, tetapi masih ada sinar matahari yang menemani Narelle untuk menemui laki-laki itu. Langkah Narelle sudah sudah semakin dekat menuju pohon beringin. Dari kejauhan, Narelle melihat sosok laki- laki yang persis dengan yang ada di mimpi Narelle. Narelle pun segera mempercepat langkahnya dan mendekati laki-laki itu.


”Hai”, sapa Narelle pada laki-laki itu, tapi laki-laki itu tidak membalas sapaan Narelle.


“Hai!” apakah kamu tidak mendengar ku?!” ucap Narelle. 


”Aku adalah jodohmu, Narelle”, ucap laki-laki tersebut spontan.


Narelle sangat terkejut mendengar itu. “Maksud kamu?” tanya Narelle.


“Aku adalah jodohmu, tapi aku sudah meninggal”, ucap laki -laki itu.


“Jadi, apakah kamu ingin pergi bersamaku?” ajak laki-laki itu.


“Pergi kemana?” tanya Narelle.


“Pergi ke surga, tidak ada tempat yang paling indah selain surga”, ajak laki- laki tersebut sembari menggenggam tangan Narelle.


“Tapi aku masih mau hidup”, ucap Narelle ketakutan mendengar ajakan laki-laki itu.


“ya sudah kalau begitu, aku akan menunggumu sampai kamu mati dan kita akan bertemu di surga”, ucap laki-laki tersebut sambil tersenyum.


    Seketika pun Narelle pun terdiam. Narelle sangat-sangat terkejut dengan kejadian hari ini. Ia tidak tahu ia harus senang atau sebaliknya.


“Hei, apakah kamu bisa hidup kembali?” tanya Narelle.


”Yang sudah mati, tidak akan hidup kembali, itu sudah menjadi takdirku”, ucap laki-laki tersebut yang sedang melihat pemandangan yang sangat indah ketika itu sebelum ia pergi ke alamnya.


”Aku bisa di sini hanya karena ingin menemuimu, dan jika kamu tidak ikut denganku, kita tidak akan bertemu lagi”. Setelah laki-laki itu mengatakan hal tersebut, tiba-tiba turunlah hujan yang sangat deras. Yang mulanya langit cerah, seketika berubah menjadi langit gelap yang menakutkan.


*) Penulis merupakan santri aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid Sejati


0 comments:

Posting Komentar

Contact

Talk to us

Mari berdiskusi dengan kami

Address:

Jl.Kendal-Geneng RT.002 RW.003 Dusun Pencol 1, Desa Randusongo, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur,Kode Pos 63270

Work Time:

Setiap Waktu

Phone:

087858305366

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tidak Perlu Menjadi Orang Lain

Oleh: Safa Aulia Dea Novita.      Proses kekaguman kita pada orang lain bisa jadi baik, tapi bisa juga tidak baik. Apa sebabnya? Sikap kekag...