Setelah sampai di stasiun Surabaya, aku dan satu teman perempuanku langsung mengemudi untuk membawa koper kita berdua. Setelah kita berhasil mengambil pembeli kita masing-masing, tiba-tiba aku menangkap sepasang mata sedang menatap tajam ke arahku, aku tidak tahu siapa dia, yang jelas aku melihat dia menggunakan topi hitam sekaligus masker dengan warna senada. Setelah beberapa saat aku mulai tidak nyaman ditata seperti itu, namun karena aku tidak punya cukup waktu untuk mempermasalahkannya, aku segera menepisnya dan langsung menarik lengan temanku untuk segera membangun dari tempat itu. Kebetulan suasana di stasiun saat itu terbilang cukup padat, jadi untuk menghindari adegan misterius itu sangatlah mudah.
Aku dan temanku memutuskan untuk istirahat sejenak di tempat yang sudah disediakan. Aku meneguk air mineral yang sempat aku beli tadi di kereta, sedang temanku memilih untuk menikmati sepotong roti yang ia beli sebelum duduk di bangku tunggu tadi. Tanpa disangka aku kembali menemukan sosok yang aku temui di stasiun, lagi-lagi dia kembali memperhatikanku yang jelas hal itu membuat aku merasa tidak nyaman .
“Na, apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku pada teman di sebelahku.
“Tidak, tidak ada yang salah,” jelasnya.
“Make upku tidak berantakan atau mungkin ada sesuatu di wajahku?” tanyaku sekali lagi.
“Tidak La, tidak ada yang salah dengan dirimu”.
“Oh, oke”
“Ada apa, apa ada yang mengusikmu?”.
“Oke, Aku akan bilang sama kamu, tapi janji jangan noleh dulu, tolong jangan noleh,” ucap seriusku sedang Naina hanya mengangguk mengiyakan ucapanku.
“Tepat di belakangmu, tidak terlalu jauh dari posisi kita duduk, ada sosok yang memperhatikanku sejak kita turun, dan aku gak tahu kenapa dia juga bisa ada di sini. Bisa jadi dia mengikutiku atau mungkin kita memang searah.”
“Apa-apaan?” aku langsung membekap mulut temenku itu.
“Jangan keras-keras dodol”
“Oke. Tunggu, mungkinkah dia jatuh cinta pada pandangan pertamamu?” ucap Naina tersenyum penjara ke arahku.
“Ngaco kamu”
“Hei bisa jadi kan? Maksudnya kalo bukan karena tertarik kenapa dia terus memperhatikanmu sejak tadi sampai sekarang hayo.” Godanya lagi.
“Ah sudah lupa hal itu tidak mungkin terjadi.” Pungkasku.
“Hmmmm....... baiklah”
Tapi di sisi lain, entah kenapa aku sedikit terusik dengan ucapan yang dilontarkan Naina, mungkinkah itu benar? Tapi tidak mungkin! dan untuk memastikannya lagi, aku kembali menoleh ke arah sosok itu dan ternyata benar dia masih duduk tenang sambil melihat jantungku sedikit berdetak lebih kencang dari biasanya dan tanpa sadar mata kita beradu hingga akhirnya aku tersadar kemudian memesann wajahku darinya. Aku menyentuh dadaku sesak, perasaan macam ini, padahal sosok itu aku tidak tahu siapa dia, seperti apa wajahnya dan semua tentang dia, tapi kenapa hanya dengan sekali tatap aku bisa merasakan getaran ini?
Aku kembali melemparkan nafasku pelan untuk menetralkan perasaanku, tiba-tiba tanpa aku sangka Naina menampar-nepuk bahuku dengan sangat keras membuat aku langsung menoleh ke arahnya.
“Lihat, lihat cowok itu melangkah ke arah kita,” ucap Naina dengan pandangan masih fokus pada sosok itu.
Dengan tanpa basa-basi lagi aku langsung mengikuti arah pandangan Naina yang mengingatkan pada sosok itu, dan lagi, mata kita bertemu.
“Ciye…” Naina menyenggol lenganku untuk menggodaku. “Benar kan apa kata aku, dia tertarik padamu.”
“Aku tidak percaya,” ucapku tanpa menoleh padanya.
Namun tanpa sepengetahuan Naina saat ini, jantungku berdebar dengan sangat kencang. Bagaimana tidak, saat ini aku sedang bertatapan dengan sosok berpostur tubuh tinggi, tegap, berkulit putih, terlihat tajam, memakai kaos hitam dan celana pendek. Posisi tangan yang disibukkan dengan koper yang ia bawa, sedang tangan kirinya memegang sebuah ponsel serta tas yang digantung dibahu kirinya. Tentangnya, aku menyimpulkan dia tampan juga menarik. Pandanganku belum beralih darinya begitupun dengan ia yang masih terus memandangku hingga tiba di mana ia menghentikan langkahnya tepat di hadapanku, membuat jantungku sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Apalagi dengan jarak sedekat ini, wajah tampannya semakin terlihat serta tarikan lurus yang dibuat oleh bibir semakin menampakkan siapa dia walaupun senyum itu tertutupi oleh masker hitamnya. Sedang Naina yang duduk tepat di sebelahku sudah seperti reog kesurupan dengan menyenggol-nyenggol lenganku karena mendapati sosok itu benar-benar medatangiku.
“Izin mbak, maaf sebelumnya mengganggu dan membuat mbak tidak nyaman sedari tadi,” ucapnya sambil melepas masker yang ia kenakan dan Damm dia benar-benar sangat tampan, wajahnya terukir dengan sempurna dengan polesan alis tebal dan kumis tipisnya ditambah senyum manisnya ia mampu dengan mudah membuat seseorang jatuh cinta.
“Maaf mbak,” ia membuyarkan lamunanku.
“Eh maaf Mas ya?” tanyaku.
“Begini mbak, sepertinya koper kita tertukar,” jelasnya.
“Hah!!” ucapku dan Naina hampir bersamaan, dan seketika itu juga kita langsung berpandangan satu sama lain. “Bentar Mas saya cek terlebih dahulu,” ucapku tertunduk malu. Saat itu pula aku langsung memeriksa koper yang aku bawa sedari tadi dan ternyata benar aku salah mengambil koper dan saat itu juga aku baru menyadari bahwa koper kita sama.
“Benar Mas, seperti pembeli kita tertukar,” tanpa basa-basi lagi saya langsung menyerahkan pembeli itu begitupun dengan dia. “Maaf Mas, saya yang salah ambil koper, sekali lagi saya minta maaf,” ucapku tertunduk malu.
“Tidak apa-apa Mbak, saya juga minta maaf dan terimah kasih,” ucapnya, sedang aku masih tertunduk malu. “Baiklah kalau begitu saya izin dulu, sekali lagi terimah kasih,” ucapnya kemudian berlalu.
Setelah ia berlalu, aku langsung menoleh ke arah Naina yang menahan tawa sedari tadi. “Puas kamu gojlokin aku dari tadi?” Ucapanku yang masih malu menahan menyebabkan ulahnya aku menjadi kepedean atas sosok yang aku tak tahu bernama siapa itu.
“Gak papa, anggap saja hiburan dan pengalaman,” ucapnya sambil tertawa lepas.
“Udah ah, yuk kereta kita sudah mau berangkat,” ajakku menerimanya dan ia pun mengangguk menyetujuinya.
“Lucu kamu kalau lagi salting kayak tadi.”
“Ulahmu itu”.
“Wkwkwk”
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya kereta kami berangkat, meninggalkan sedikit kenangan tentang sosok berparas tampan itu dan tentang perasaan yang sempat ingin tumbuh kemudian saat itu juga harus ditiadakan. Benar kata Naina, kejadian ini cukup dianggap sebagai hiburan dan penutup liburan kita tahun ini.
Tapi tunggu dulu, oh tidak, lelaki itu duduk tepat tidak jauh dari kursiku dan Naina. Aku mencoba melihatnya. Lagi-lagi, mata kita beradu pandang, dalam tabrakan yang melekat, dalam, sedalam gemuruh yang muncul di dadaku.
*) Penulis merupakan salah satu Ustadzah Pondok Pesantren Nurul Jadid Sejati


0 comments:
Posting Komentar