
Oleh : M.Althaf Syamkhitsa Ilhami Khalil.
Kita bisa berangkat dari hal-hal kecil yang bersifat sistematis untuk mempelajari agama Islam, baik itu dalam persamaan, persamaan, atau bahkan perbedaannya. Mari kita mulai.
Pertama, matematika itu ilmu pasti, sedangkan agama dianggap penuh dengan ketebalan. Meski memang ada sejumlah hal yang diyakini pasti dalam agama, seperti Tuhan, hari berhenti, para malaikat, nabi, dan sebagainya. Namun banyak hal yang belum kita ketahui dan itu dianggap belum pasti. Seperti apakah kita akan masuk surga ataukah neraka. Kita hanya berusaha mendekatinya serta memahami perintah Tuhan beserta larangannya dengan penafsiran-penafsiran sebatas yang kita mampu mengikuti pendapat para ulama.
Oleh karena itu, dalam hukum Islam dalam memutuskan suatu perkara, bisa jadi ada beberapa pendapat yang berbeda antara satu dengan yang lain, bahkan ada dua pendapat yang saling berseberangan. Misalnya sebagian ulama seperti Yusuf Wardhawi, Mutawalli Sya'rawi, Abu Zahrah, dan Al-Ghazali menyatakan bahwa bunga bank hukumnya haram karena mengandung riba. Namun sebagian ulama lain yang tergolong ulama kontemporer seperti Syekh Ali Jum'ah, Muhammad Abduh, Muhammad Sayyid Thantawi, Abdul Wahab Kholaf, dan Mahmud Syaltut menegaskan bahwa bunga bank hukumnya boleh dan tidak termasuk riba.
Kita dididik untuk bisa menyikapi perbedaan itu dengan cara memilih salah satu pendapat untuk dipegang, tapi dengan sikap kerendahan hati tanpa merasa kita pasti benar dan dengan berpandangan bahwa yang berbeda itu belum tentu salah juga.
Seperti kata Ibnu Hajar Al-Haitami yang populer di kalangan para ulama: “kita harus meyakini madzhab kita benar, tetapi mengandung kekeliruan. Sedangkan mazhab lain salah tapi mengandung kebenaran.”
Kedua, meminjam perumamaan Prof. Quraish Shihab, kalau di kelas matematika kita dituntut mencari tahu hasil dari 5+5 sama dengan berapa, namun dalam kelas agama kita disuruh untuk mencari tahu 10 itu hasil dari berapa tambah berapa sehingga jawabannya bukan tunggal kecuali majemuk, beragam. Bisa 5+5, 6+4, 1+9, dan seterusnya.
Ketiganya, meminjam analogi yang sering dinisbatkan pada Al-Khawarizmi yang dikenal dengan julukan Bapak Aljabar. Kata Al-Khawarizmi: “akhlak itu seperti angka 1, kalau seorang muslim yang berakhlak itu kaya, kekayaan itu seperti tambahan angka 0 di belakang angka 1, maka menjadi 10. Kalau dia juga tampan atau cantik, itu seperti tambahan angka 0 satu lagi di belakang angka 1, jadi 100. Begitu juga kalau dia pintar, berilmu, maka tambahan angka 0 satu lagi hingga akhirnya menjadi 1000. Begitu seterusnya.” Namun jika akhlak hilang darinya, berarti angka 1 di awa tadi hilang, sehingga yang tersisa hanya deretan angka 0 yang tidak ada artinya.
Kembali pada matematika, muslimatika. Matematika itu ilmu hitung, tapi seperti firmannya dalam QS. Ibrahim ayat 34, secanggih-canggihnya matematika, ia tidak akan mampu menghitung segala nikmatnya dan rahmatnya.
Matematika kita dan “matematika” Tuhan itu berbeda. Rumus matematika kita menyebutkan 1-1 sama dengan 0, namun rumus matematika Tuhan menyebut 1-1 sama dengan 700. Kok bisa? Bacalah Al-Baqarah ayat 216, Allah menyebutkan bahwa barang siapa yang punya harta lalu satu harta itu disedekahkan maka Allah akan menggantinya dengan 700 kali lipat.
Namun selain itu semua, tidak berarti dalam beragama kita jadi tidak perlu menggunakan pendekatan matematika yang sama sekali. Yang paling penting, matematika itu sebenarnya mengajarkan logika dalam format angka. Oleh karena itu, sebagai sebuah pendekatan logistik, ia penting dalam beragama. Itulah sebabnya dalam Al-Quran tidak sekali pun doa kali kita sebagai umat muslim dituntut untuk selalu berpikir. Sebab tanpa akal, agama hanya akan menjadi jumud, jahiliyah, mitologi, dan seterusnya.

Best
BalasHapus