Selasa, 18 Juni 2024

Apakah Alien Itu Benar-benar Ada?

Oleh: Afsya Mafaza Ya'la.


    Bagaimana dengan alien? Apakah Anda yakin itu ada? Banyak orang karena menonton film fiksi sains dan alien, yakin bahwa ada kehidupan cerdas dan maju di luar bumi. Ketika didesak menjelaskan, mereka sering menjawab bahwa tidak masuk akal kalau ada miliaran galaksi, bintang, dan planet di luar sana, tapi semuanya tak punya kehidupan cerdas. Seperti yang seorang tokoh katakan dalam film Contact “Jika hanya ada kita tampaknya ada banyak sekali ruang tersisa”.


    Ndhal Guessoum penulis buku The Young Muslim’s Guide to Modern Science sering ditanya teman-temannya saat di rumah apakah ia percaya dengan kehidupan di luar bumi. Dan ya dia langsung menjawab ”Itu bukan pertanyaan kepercayaan, itu pertanyaan sains, seperti adakah lubang hitam? Dan adakan ada bumi yang lain? dan mesti dijawab dengan riset sains”. Tentu saja, ia menyadari bahwa pertanyaan itu juga punya aspek filosofi, eksistensial, dan bahkan teologis (keyakinan agama): Apakah Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini untuk spesies kita saja? atau adakah banyak spesies cerdas lain, yang beberapa di antaranya barangkali jauh lebih cerdas dan maju dibanding kita? Ada banyak usaha yang dilakukan untuk menjawab itu.


    Upaya pertama menjawab pertanyaan itu secara saintifik dilakukan sekitar lima puluh tahun lalu ketika Frank Drak, ahli astronomi Amerika, mengumpulkan sekelompok saintis untuk mencoba membuat program kunci jawaban pertanyaan itu. Untuk membuka diskusi, dia mendaftarkan faktor-faktor yang menentukan peluang keberadaan makhluk cerdas di luar Bumi di sejumlah planet di sekeliling bintang serat jumlah planet yang dapat bertahan sampai terdeteksi kita. Perkalian faktor-faktor itu menjadi apa yang sekarang dikenal sebagian istilah “Persamaan Drake” yang telah menjadi salah satu teori persamaan paling terkenal.


    Namun, sebagaimana bisa dengan cepat disadari siapapun yang membaca daftar pendek itu, sukar menghitungnya dengan tepat, dan hasilnya (dulu maupun sekarang) tentang jumlah peradaban luar bumi antara hanya satu manusia atau bahkan ada jutaan makhluk seperti manusia di luar sana. Satu-satunya cara untuk mencari tahu hanyalah dengan mencari.


    Kemudian lahirlah program SETI, Search for Extra Ternestrial Intelligence, yang memantau langit mencari sinyal radio atau laser yang berisi pesan. Lima puluh tahun pencarian tak menghasilkan apa-apa. Jagat raya ini sangatlah besar, sinyal dapat berasal dari jarak yang sangat jauh sementara peralatan kita terbatas. Sukar menganalisis semua pancaran radio yang kita deteksi dari galaksi kita, belum lagi dari seluruh alam semesta.


    Masyarakat pun dilibatkan dengan suatu program pada 1999 di mana masyarakat diajak ikut serta dalam progam SETI @Home dengan mengunduh perangkat lunak yang membuat komputer di rumah ikut menganalisis data SETI dari sumbernya, Spiece Sciences laboratory di Universitas of California, Berkeley kalau sedang tak ada kerjaan. Lima juta lebih orang di seluruh dunia ikut serta, menyumbang waktu komputer total melebihi dua juta tahun. Masih belum ada ET (sinyal) ditemukan.


    Ada debat mengenai “Kesunyian seram” itu seperti yang dirumuskan oleh Paul Davies, Ahli fisika masyhur Enrico Fermi sejak awal menyatakan alien tidak ada, setidaknya tidak di galaksi kita: ”Dimana mereka?” tanya Fermi maksud waktu untuk mengembangkan kecerdasan dan teknologi tingkat tinggi; (karena kehidupan muncul di Bumi sekitar 8 atau 9 miliar tahun setelah pembentukan Bima Sakti, Bintang-bintang dan planet planet lain kiranya sudah ada lama sebelum itu, dan kehidupan kiranya telah berevolusi di salah satunya lama sebelum di sini, sehingga sudah menemukan kita (dengan teknologi maju) dan kehadiran mereka kiranya meninggalkan jejak. Itu dikenal sebagai paradoks Fermi, dan banyak buku serta artikel yang telah ditulis mengenainya, mendukung maupun mengenang.


    Argumen menentang paradoks Fermi mencakup antara lain barangkali spesies amat cerdas itu belum menemukan kita (karena kita sendiri belum lama hadir dan menjadi maju), atau bahwa barangkali mereka tak tertarik mendatangi kita.


    Dampak apa yang bakal dihadirkan keberadaan seperti itu secara teologis/religius? Menurut Davies teologi apapun yang bersikeras menyatakan manusia unik bakal tamat. Pada prinsipnya itu juga berlaku bagi Islam, setidaknya dalam pembagian pandangan para ulama, namun Davies berkata “Waktu lambat berubah, agama sangat mudah menyesuaikan diri”. Dia membandingkan tantangan baru itu dengan yang dihadapi evolusi Darwin, yang juga mempertanyakan status istimewa manusia di sebagian besar agama, dia menyimpulkan “Penemuan makhluk luar bumi yang maju bakal menggambarkan ancaman serupa yang lebih kentara, dan terbukti lebih sukar di sebarkan”. Tinggal kita menghitung probalitas (kemungkinan) penemuan itu dari siapa saja, silahkan. Tak diragukan lagi, ini subjek pengetahuan yang menarik.


Dikutip dari buku The Young Muslim’s Guide to Modern Science karya Ndhal Guessoum


*) Penulis merupakan santri aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid Sejati


0 comments:

Posting Komentar

Contact

Talk to us

Mari berdiskusi dengan kami

Address:

Jl.Kendal-Geneng RT.002 RW.003 Dusun Pencol 1, Desa Randusongo, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur,Kode Pos 63270

Work Time:

Setiap Waktu

Phone:

087858305366

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tidak Perlu Menjadi Orang Lain

Oleh: Safa Aulia Dea Novita.      Proses kekaguman kita pada orang lain bisa jadi baik, tapi bisa juga tidak baik. Apa sebabnya? Sikap kekag...