
Pada suatu hari aku menjalankan rutinitasku yaitu menyapu dan lain-lain. Aku tinggal disebuah pondok yang cukup besar yang ada di Jawa Timur. Pondok itu adalah tempat yang membuatku dewasa dan bisa berfikir tentang seseorang yang membuatku jatuh dalam hatinya, yaitu dia yang bernama Fakhri. Dia adalah laki-laki yang bisa membuatku jatuh dalam hatinya.
Pada suatu malam dia mengirimkan pesan kepadaku “assalamualikum Arum”. Aku syok melihat pesan itu dan aku kaget, lalu akupun bergumam “orang sebeku Fakhri mengirimkan pesan kepadaku?” Aku tidak menjawab pesan Fakhri si cowok paling beku sedunia. Beberapa hari kemudian aku menjawab pesan dari Fakhri “waalaikumsalam, iya Fakhri ada apa?” akupun memaksa diriku untuk tidak akan membalas pesan dia lagi. Aku hanya akan fokus mondok dan belajar.
Lalu setelah itu aku sholat tahajud untuk menemukan jawaban dari semua yang Fakhri tanyakan kepadaku. Lalu Fakhri membalas pesan yang sudah berminggu-minggu, “I will bring you running well!”. Aku hanya bisa memandang pesan tersebut. Aku berfikir mengapa Fakhri melakukan itu semua kepadaku. Akupun menjawab pesan itu, “apa maksudmu?” Mungkinkah ini jawaban dari semua doa dan sholat malamku? Mungkinkah ini hanya halusinasiku saja? Mungkin sih.
Suatu hari aku bertemu dengannya di sebuah masjid yang ada di Ngawi. Aku mematung dan hanya berdiam diri sedangkan dia pun begitu. Rasa mulai canggung pun datang. Kita berpandang-pandangan. Akhirnya Fakhri mengajak bicara “apakah kamu salah satu santri yang mondok di Nurul Huda?” Aku menjawab “i..iya”. Aku pun bertanya kepadanya “apakah kamu juga salah satu santri yang mondok di Nurul Huda?” diapun menjawab dengan lantang “iya”. Kita terdiam sejenak untuk membiasakan berbicara dengan berbeda angkatan.
Akhirnya adzan Isya’ pun berkumandang. Lalu dia mengajakku untuk sholat berjama’ah. Dan kita melanjutkan pembicaraan dengan membahas pelaksanaan Harlah pada hari minggu nanti. Setelah selesai kita memutuskan untuk pulang ke pondok masing-masing.
Puncak acara Harlah pun datang. Di saat itu semua santri boleh memegang HP mereka termasuk Fakhri. Dia mengirimkan pesan kepadaku “uhibbuki”. Aku sedikit tidak paham dengan pesan tersebut. Akupun bertanya “apa maksudmu Fakhri?” dia langsung menjawab “maksud ku. Aku menyukaimu”. Aku tidak menjawab pesannya.
Dia memaksaku untuk menjawab pesannya. Pasalnya aku gugup untuk membalas pesanya, lalu aku memberanikan menjawab “kenapa harus aku yang kamu sukai, padahal masih banyak wanita lain yang menyukaimu?”. Dia membalas “adakah cinta yang harus dipaksa untuk bisa mencintai orang lain, selain orang yang aku cintai?” Aku hanya bisa berfikir apa maksud pesan darinya. Aku menjawab pesanya “adakah laki-laki yang bisa mencintaiku dengan ketulusan? adakah cinta sejati di antara kita?” Fakhri membalas pesanku dengan cepat dan menjelaskan semua itu. “Ada, yaitu aku sendiri. Dan cinta sejati pasti ada di antara kita”. Aku langsung menjawabnya “apakah kita bisa bersatu yang mana masih ada wanita lain yang menyukaimu dan masih belum bisa menjauh darimu?”
Dia menjawab “siapa wanita itu, dan beri tahu aku tentang wanita itu?”, “dia adalah pindahan pondok pesantren Nurul Amin yang bernama Aliza, dia berasal dari Denpasar, Bali”. Di sisi lain Fakhri langsung mematikan ponselnya dan merenungkan diri untuk bisa menjalin hubungan dengan Arum dan tentang semua masalah yang terjadi dengan wanita yang bernama Aliza.
Aku hanya bisa menenangkan Fakhri dan menyemangati. Fakhri tidak pernah absen untuk selalu beroda dalam tahajudnya dan istiqoroh.
Fakhri mendapat jawaban atas doa yang ia panjatkan, dan dia memilih Arum untuk menjadi kekasihnya. Suatu saat aku mengirim pesan kepadanya
“Assalamualaikum Fakhri”
“Waalaikumsalam Arum, ada apa?”
“Kenapa akhir-akhir ini ga ada kabar, apakah kamu sakit atau kenapa?”
Fakhri menjawab dengan menceritakan tentang wanita yang bernama Aliza. “Arum aku takut untuk mengirim pesan kepadamu dan aku takut kamu kenapa-kenapa, apakah aku boleh curhat denganmu?”
“tentu boleh”. Jawabku.
Lalu Fakhri menceritakan “kenapa Aliza mencintaiku sedangkan aku tidak mencintainya? Aku sangat kasihan kepadamu karena aku terlalu mencintaimu dengan ketulusan hatiku”.
Aku tersentuh dengan ucapanya, dia mengirim pesan lagi setelahnya “apakah kamu akan percaya apa yang bicarakan?”
Aku pun menjawab, “aku takut dengan wanita yang bernama Aliza, Fakhri”.
Fakhri pun turut kesal dengan Aliza, lalu membalas pesanku “tidak usah takut dengan Aliza! Aku tidak akan menyukainya, Arum”.
Setelahnya aku merenung dan melaksankan solat tahajud untuk meminta jawaban atas apa yang Fakhri lakukan kepadaku. Aku menjawab pesan Fakhri yang sebelumnya, “apakah kau benar-benar mencintaiku dengan tulus dan ikhlas Fakhri? aku akan menerimamu di saat aku salat di sepertiga malamku”.
“Aku akan menunggu di sepertiga malamku”.
Aku berfikir atas jawaban dan janjinya. Aku membalas “ berjanjilah kepadaku untuk tidak meninggalkanku seumur hidupku”. Dan Fakhri mengiyakan janji tersebut.
BERSAMBUNG

0 comments:
Posting Komentar